Post Terbaru!
0

AJARAN SUNAN BONANG

Bismillahirrahmanirrahim

“Jangan bertanya, Jangan memuja Nabi dan Wali-Wali. Jangan mengaku Tuhan. Jangan mengira tidak ada padahal ada, sebaiknya diam. Jangan sampai digoncang oleh kebingungan…”

Kenapa kita disarankan oleh Sunan Bonang untuk diam khususnya saat membicarakan soal-soal makrifatullah sebagaimana yang tertera dalam Suluk Jebeng? Sebab, daripada sesat karena bila belum mengalami sendiri keadaan makrifat, maka yang biasa terjadi adalah saling beradu argumentasi untuk nggolek benere dhewe, nggolek menange dhewe padahal kasunyatannya tidak seperti yang digambarkan masing-masing orang…

Maka, kita diminta untuk diam dan suatu saat semoga kita mampu untuk menyaksikan sendiri dan membuat kesaksian terhadap eksistensi-Nya yang maha tidak terhingga atau diistilahkan oleh Sunan Bonang sebagai SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini adalah pemberian Tuhan kepada seseorang yang diistimewakannya sehingga ia mampu menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan. Marilah kita mencebur lebih dalam hal ini….

Agama dari langit sudah sangat lengkap memadukan aspek lahiriah (syariat/aturan/hukum/fiqih yang mengikat tubuhnya) dan juga aspek perjalanan batin manusia menuju kebersatuan dengan Tuhan Semesta Alam. Memahami dari aspek lahir saja, tidak akan mampu memberikan kedalaman pengalaman batin manusia. Sebaliknya, agama yang dipahami dari sisi batin saja, biasanya cenderung mengabaikan aturan dan hukum kemasyarakatan sehingga bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat.

Yang ideal memang memahami agama sebagai jalan yang lapang menuju Tuhan secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satu aspek, apakah itu aspek lahir maupun aspek batin. Bila aspek lahir dipelajari dalam disiplin ilmu syariat/fiqih/hukum serta ilmu logika/mantiq dan lainnya. Maka aspek batiniah digeluti dengan pendekatan Ilmu Tasawwuf.

Bila kita belajar Ilmu Tasawwuf, maka tidak bisa tidak kita akan mempelajari sejarah Tasawwuf dari masa ke masa, riwayat hidup Para Sufi dan istilah-istilah ruhaniah manusia.

Tidak mudah untuk belajar Tasawwuf. Berbeda dengan belajar syariat/fiqih/hukum maupun filsafat yang dasarnya adalah olah pikir atau logika, maka Tasawwuf dasarnya adalah olah rasa untuk menyelami sesuatu yang metafisis dan abstrak. Kita tidak mampu menggali kedalaman samudera Tasawwuf jika tidak menyelami sendiri dimensi-dimensi batiniah manusia.

Tasawwuf bukanlah ilmu yang teoritis, melainkan praktek (ngelmu)…. Bisa dengan dzikir sejuta kali di mulut, bisa juga dengan dzikir semilyar kali di batin siang malam tanpa henti…. Ini tidak lain untuk menghancurkan kerak-kerak hati yang lalai dan kemudian digelontor dengan puji-pujian kepada-Nya dan seterusnya…. Ini hanya satu latihan ruhani yang harus dilakoni pejalan mistik saja, substansinya justru bukan dzikir atau mengingat-Nya saja. Melainkan bagaimana setelah mengingat-Nya, dan mendapatkan kesaksian akan kebenaran absolut-Nya, seseorang itu kemudian mampu berbuat sesuatu sesuai dengan iradat-Nya!!!

Dimensi batiniah manusia bisa diketahui dari bagaimana seseorang itu menempuh jalan spiritual yang melewati melalui berbagai tahapan (maqom). Dalam setiap tahapan, seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu, sebelum akhirnya penglihatan batinnya terbuka terang benderang yang dalam khasanah Tasawwuf disebut disebut Makrifat secara mendalam tanpa keraguan.

RASA BATIN yang sering disebut dalam Tasawwuf ialah:

• Tahap pertama WAJD (EKSTASE seperti Musa AS), selanjutnya

• DZAUQ (RASA MENDALAM terhadap kehadiran-Nya),

• kemudian SYUKUR (KEGAIRAHAN MISTIS untuk bermesraan dengan-Nya),

• berlanjut ke perasaan FANA atau menghilangnya diri yang benda lahir,

• BAKA (kekekalan di dalam Dzat-Nya kemudian

• FAKIR.
Apa itu FAKIR? yaitu adalah keadaan ruhani dimana pejalan spiritual menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali dimiliki-Nya. Seorang fakir tidak memiliki kemelekatan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan diri jasmani dan kebendaan. Namun demikian, dia tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah esensi Tauhid: Yaitu Tiada Tuhan Selain Allah…

Kita bisa memahami bagaimana hakikat kefakiran itu dari apa yang disampaikan para pejalan spiritual. Sekarang, marilah kita sedikit membuka berbagai karya para pejalan spiritual yang disebut Suluk yaitu satu jenis hasil olah rasa berbentuk prosa atau puisi yang dibuat kaum mistikus Jawa, yang berisi pengalaman perjalanan ruhani saat bercinta dengan Dzat-nya.

Karya Sunan Bonang yang penting untuk menggali bagaimana keadaan atau suasana kesadaran tertinggi kaum sufi yaitu SULUK GENTUR. Gentur berarti teguh dan giat, yaitu sebuah bentuk aktivitas ruhanian yang paling sempurna. Di suluk itu digambarkan bahwa seorang penempuh Jalan Tasawwuf harus melaksanakan SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini berupa KESAKSIAN DALAM DIAM, TANPA BICARA. NAMUN BATINNYA MEMBERIKAN KESAKSIAN BAHWA EKSISTENSI DIRINYA ADA KARENA ADA-NYA.

Permisalan yang mudah adalah persenyawaan antara dua dzat. Salah satu dzat tidak akan otomatis hilang, namun masing-masing berdiri sendiri. sebagaimana Kawulo tetap kawulo dan Gusti tetap Gusti. Yang lenyap dalam persenyawaan dua dzat itu hanyalah kesadaran sang kawulo akan keberadaannya yang TIDAK ADA.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah ‘keadaan dapat MERASAKAN DALAM BATINNYA kebenaran hakiki sebagaimana dalam kitab suci: “SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA”.

Bonang dalam suluknya ini berpesan bahwa, bahwa Hati yang merupakan “RUMAH/DALEM/AKU-NYA TUHAN”. Kehadiran-Nya bisa dirasakan bila hati itu ikhlas, nrimo dan sumarah. Di dalam hati yang seperti itu, antara Kawulo dan Gusti lenyap. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sejatinya manusia (obyek) selalu diawasi oleh Tuhan (subyek), yang menyebabkan dia tidak lalai sedetikpun kepada Nya.

Dan terakhir, ….Bonang berpesan: “Pencapaian sempurna bagaikan orang yang sedang tidur dengan seorang perempuan, kala bercinta… Mereka karam dalam asyik, terlena hanyut dalam berahi…

Anakku, terimalah dan pahami dengan baik. Ilmu ini memang sukar dicerna…”

| Artikel dipetik Dari Blog Wongalus
*walijo

0

Faedah 13 Rukun Di Dalam Solat

Bismillahirrahmanirrahim

1) Niat itu memeliharakan tubuh dalam dunia dan akhirat.
2) Berdiri (qiam) itu meluaskan tempat di dalam alam kubur.
3) Takbiratul ihram itu pelita yang menyala du dalam kubur.
4) Fatihah itu pakaiannya dalam kubur.
5) Ruku’ itu hamparan dalam kubur.
6) ‘Iktidal itu memberi air minum telaga kauthar.
7) Sujud itu menitikan dengan selamat titian siratthal mustakim.
8) Duduk antara dua sujud itu minta ampuni pada puji Nabi kita Muhammad SaW atas sejahtera.
9) Duduk yang kedua kenderaan di Padang Mahsyar.
10) Tahiyat itu menjawab soalan Mungkar Nangkir.
11) Shalawat itu mendinding dari api neraka.
12) Salam itu masuk ke dalam Syurga.
13) Tertib itu memandang akan Rabb (Tuhan-Allah SWT)

| Syeikh Zahratul Alam  Syeikh Wan Ismail Al Huseini As Syatari & Facebook Kerabat Sufi

0

NUR ILAHIYYAH, CAHAYA ATAS CAHAYA

Bismillahirrahmanirrahim

Tentang Cahaya di atas Cahaya terdapat dalam Surah an Nur ayat 35-38:

“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya saja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari (yang dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka yang mengerjakan demikian itu supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan kurnianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang dikehendakinya.” (An-Nur: 35-38)

Hakikat Cahaya

Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.

Petuah selanjutnya: Para Wali Qutub
Perumpamaan ketiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman, yang pada dirinya, terdapat jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.

“Allah cahaya langit dan bumi”

Bermaksud; Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebagai petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.

Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.

Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara, yang sangat cemerlang .

Tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar dengan cemerlang dan putih bersih.

Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?

Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.

Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun noda.

Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumber dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:

“Yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”

Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi, kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari pancaran cahaya syariat?

Allah berfirman: “Cahaya di atas cahaya”

Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, dengan pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeda seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan meliputi seluruh alam. Sedangkan (dinding) kaca memantulkan dan menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.

Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maksudnya Allah membimbing seorang hamba kepada Cahaya Nya sehingga Kolbu mereka diliputi oleh CahayaNya kemudian Cahaya itu dipantulkan oleh Kolbu sehingga (seolah-olah) tubuhnya bercahaya.

Ayat berikutnya :

“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.”

Jika masjid dalam diri kita (kolbu) dimuliakan dan selalu kita kumandangkan Nama Nya, maka insya Allah Cahaya di atas Cahaya akan terpancar dari dalam kolbu kita.

Sumber : Kerabat Sufi (Facebook)

0

PERJALANAN MENUJU YANG HAQ

Ada dua jalan yang ditempuh orang dalam mencari yang haq dengan masing-masing dalilnya :

“Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu”

Barang siapa mengenal dirinya maka pasti dia akan kenal Tuhannya. (Dalil ini yang sangat popular dikalangan sufi, meditator , filosofi, teologi)

“Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu”

Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya.

Pada jalan pertama, biasanya dilakukan oleh para pencari murni, mereka belum memiliki panduan tentang Tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …iaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan falsafah inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahawa Tuhan itu ada.

Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan falsafah ini dalam mencari Tuhan, iaitu tahap mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, fikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia boleh membezakan dari mana ilham itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya…

Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, kerana pada tahap-tahap wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘keghaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, kerana kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Kerana disana dia boleh melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahawa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya…..

Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, kerana dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam), … ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … kerana terlalu lama di dalam mengideantifikasi alam-alam yang akan di laluinya ….

Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …iaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Kerana dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosofi pada zaman pertengahan dalam hal ini falsafah Yunani. Teologi Kristian dan Hindu telah banyak mempengaruhi falsafah ini. sehingga Al Ghazali pantas mengkritik kaum filosofi dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan idea falsafah masa itu iaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan falsafah ….

Al Ghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir terbalik, … beliau mengajukan gagasan bahawa umat Islam harus memulakan pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan iaitu Tuhan, bukan dimulai dari luar yang tidak boleh dipertanggung jawabkan kebenarannya, ertinya sangat berbahaya kerana di dalam falsafah memulakan berfikirnya dari tahap yang benar menuju zat dibalik semuanya berasal. Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar umat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan fikiran yang belum tentu kebenarannya…

Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … kerana alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar…

Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya .

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS. Al Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Al Qaaf: 16)

Ayat-ayat diatas, mengungkapkan keadaan Allah sebagai wujud yang sangat dekat, dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara sempurna. Alqur’an mengungkapkan jawapan secara dimensi dan dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia sesempurnanya. Saat pertanyaan itu terlontar, dimanakah Allah ? Maka Allah menjawab: Aku ini dekat, kemudian jawapan meningkat sampai kepada, Aku lebih dekat dari urat leher kalian .Atau dimana saja kalian menghadap di situ wujud wajah-Ku…dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu ….

Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita jika dalam mencari Tuhan melalui tahap terbalik…

Pada tahap pertama beliau nampak alam dan segala kejadian adalah satu bersama Allah. Dan pada tahap kedua nampak alam sebagai bayangan Allah; dan pada tahap ke tiga beliau nampak Allah adalah berasingan dari pada segala sesuatu di alam ini. Kalau hal ini hanya sebatas penjelasan terstruktur kepada muridnya, saya anggap hal ini tidak menjadi persoalan, … akan tetapi jika tahap-tahap ini merupakan metologi dalam mencari Tuhan, … saya kira ini berbahaya, kerana yang akan berjalan adalah fikirannya atau otaknya, … yang akhirnya timbul khayalan atau khayalan.

Di dalam Islam memulakannya dengan pengenalan kepada Allah terlebih dahulu iaitu dengan zikrullah (mengingat Allah), … kemudian kita di perintah langsung mendekati-Nya, kerana Allah sudah sangat dekat..tidak perlu anda mencari jauh-jauh melalui alam-alam yang amat luas dan membingungkan ..alam itu sangat banyak dan bertingkat-tingkat. Tidak perlu kita memikirkannya…cukupkan jiwa ini mendekat secara langsung kepada Allah … kerana orang yang telah berjumpa alam-alam belum tentu ia tunduk kepada Allah, kerana alam disana tidak ada bezanya dengan alam di dunia ini kerana semua adalah ciptaan-Nya !!

Akan tetapi jika anda memulakan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, maka secara automatik anda akan diperlihatkan / dipersaksikan kepada kerajaan Tuhan yang amat luas. Maka saya setuju dengan dalil yang kedua, barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya. Sebab kalau kita kenal dengan pencipta-Nya, maka kita akan kenal dengan keadaan diri kita dan alam-alam dibawahnya, kerana semua berada dalam genggaman-Nya…kerana Dia meliputi segala sesuatu …kerana Dia ada dimana saja kita ada, … dan Dia sangat dekat.

Betapa rumitnya perjalanan yang dilalui oleh pencari, seperti apa yang yang saya tulis pada bab Membuka hijab….dan bagi yang tidak kenal Alqur’an akan mudah sekali berhenti dan tersesat kepada alam-alam itu …kerana ilham itu amat banyak yang muncul dari segala suara alam-alam tersebut (tolong anda baca tahap spiritual yang di tulis pada bab Membuka hijab, kerana akan membantu penjelasan saya ini )

Kesimpulan :

Islam mengajarkan didalam mencari Tuhan, telah diberi jalan yang termudah dengan dalil barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya … hal ini telah ditunjukkan oleh Allah bahawa Allah itu sangat dekat, … atau dengan dalil …barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami…
(QS: Al ankabut: 69 )

“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeza).”
(QS : Al Anfaal: 29)

Ayat-ayat ini membuktikan di dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak perlu lagi melalui proses pencarian atau menelusuri jalan-jalan yang di temukan oleh kaum falsafah atau ahli spiritual di luar Islam, … kerana mereka di dalam perjalanannya harus melalui tahap-tahap alam-alam … Islam di dalam menemuhi Tuhannya harus mampu memfanakan alam-alam selain Allah dengan konsep laa ilaha illallah … laa syai’un illallah … laa haula wala quwwata illa billah … tidak ada Tuhan kecuali Allah … tidak ada sesuatu (termasuk alam-alam) kecuali Allah, … tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Allah semata ….maka berjalanlah atau melangkahlah kepada yang paling dekat dari kita terlebih dahulu bukan melangkah dari yang paling jauh dari
diri kita ….

| Jalansufi via Kerabat Sufi Facebook

0

Lam Jalalah

Lam Jalalah adalah simbol/huruf/abjad lam kembar dalam tulisan kalimah ALLAH

Sedangkan lam jalalah itu sendiri singkatan dari “LA HAULA WA LA QUATA ILLA BILLA” yang bererti “tidak ada daya dan upaya dan tidak ada kekuatan kecuali Allah”. Makna lam jalalah itu sendiri adalah kebesaran dan keagungan ALLAH, maka Lam Jalalah adalah lambang kebesaran ALLAH. Didalamnya terkandung rahsia asma ALLAH al-Jalal yang bererti Maha Tinggi dan all-Jalil yang bererti Yang Maha Agung dan Mulia.

ALLAH s.w.t telah berfirman yang bermaksud:

“ALLAH mempunyai Asmaa Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaa Husna itu” (Surah Al-A’raf:180)

Rasulullah SAW bersabda ” La Haula Wa la Quwwata Illa Billah” adalah salah satu dari sekian banyak perbendaharaan Syurga”. (HR an Nasa-i)

Abu Dzar Al-Ghifari berkata: “Aku dibimbing olehNya untuk selalu mengucapkan La Hau La Wala Quwwata Illa Billah kerana kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. (HR Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159).

Simbol ini hanya satu-satunya keerana itu adalah sifat-Nya yang Maha Esa. DenganNya, kita mendapat nikmat dan anugerah yang tiada terkira. Lam Jalalah, pecahan daripada rahsia ALLAH, ADAM dan MUHAMMAD. Dikatakan Lam Jalalah mempunyai fadilah dan bermacam-macam kaifiat kegunaan. Ianya boleh menjadi berdasarkan niat seseorang.

Teta[o, ada satu kunci Lam Jalalah iaitu IMAN, EHSAN dan TAQWA, IKHLAS dan REHDA. Kebanyakan pengamal Lam Jalalah selalu menggunakan Lam Jalalah untuk itu dan ini dan sebagainya, iaitu lebih kepada urusan duniawi. Tetapi lupa bahawa Lam Jalalah sepatutnya digunakan untuk membersihkan diri sendiri daripada sifat Mazmumah, unsur syirik nyata dan tersembunyi.

Berkeyakinan mentauhid, mengesakan dan mengagungkan kebesaranNya, menafikan segala sesuatu melainkan Allah. Tiada yang Nyata selain ALLAH. “La Hau La Wa La Quata Illa Billah”. Tidak ada Daya dan Upaya dan Tidak ada kekuatan Kecuali dengan Bantuan ALLAH”. Inilah inti utama pelajaran Lam Jalalah.

  • Video Tenaga Dalam