Post Terbaru!
0

Kisah Seorang Badwi Menghisab ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for hisab

Kisah Si badui Menghisab Allah SWT

Seorang lelaki Badui telah memeluk Islam, tetapi kerana keadaan ekonominya yang terbatas dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari Madinah, ia belum pernah menghadap dan bertemu langsung dengan Nabi SAW. Ia hanya berbai’at memeluk Islam dan belajar tentang peribadatan dari para pemuka kabilahnya yang pernah mendapat pengajaran Nabi SAW. Tetapi dengan segala keterbatasannya itu, ia mampu menjadi seorang mukmin yang sebenarnya, bahkan sangat mencintai Rasulullah SAW.

Suatu ketika ia mengikuti rombongan kabilahnya melaksanakan ibadah umrah ke Makkah. Sambil tawaf sendirian, terpisah dari orang-orang lainnya, si badui ini selalu berzikir berulang-ulang dengan asma Allah, “Ya Kariim, ya Kariim…..”

Ia memang bukan orang yang cerdas, sehingga tidak mampu menghafal dengan tepat doa atau zikir yang idealnya dibaca ketika tawaf, sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Kerana itu ia hanya membaca berulang-ulang asma Allah yang satu itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil mengucap juga, “Ya Kariim, ya Kariim!!”

Si Badui ini berpindah dan menjauh dari tempat dan orang tersebut sambil meneruskan zikirnya, kerana ia menyangka lelaki yang mengikutinya itu hanya memperolok dirinya. Tetapi ke mana pun ia berpindah dan menjauh, lelaki itu tetap mengikutinya dan mengucapkan zikir yang sama. Akhirnya si Badui berpaling menghadapi lelaki itu dan berkata, “Wahai orang yang berwajah cerah dan berbadan indah, apakah anda memperolok-olokkan aku? Demi Allah, kalau tidak kerana wajahmu yang cerah dan badanmu yang indah, tentu aku sudah mengadukan kamu kepada kekasihku…”

Lelaki itu berkata, “Siapakah kekasihmu itu?”

Si Badui berkata, “Nabiku, Muhammad Rasulullah SAW!!”

Lelaki itu tampak tersenyum mendengar penuturannya, kemudian berkata, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, wahai saudaraku Badui?”

“Belum..!!” Kata si Badui.

Lelaki itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin engkau mencintainya jika engkau belum mengenalnya? Bagaimana pula dengan keimananmu kepadanya?”

Si Badui berkata, “Aku beriman atas kenabiannya walau aku belum pernah melihatnya, aku membenarkan kerasulannya walau aku belum pernah bertemu dengannya…!!”

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dan berkata, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat…!!”

Memang, lelaki yang mengikuti si Badui itu tidak lain adalah Rasulullah SAW, yang juga sedang beribadah umrah. Sengaja beliau mengikuti perilaku si Badui kerana beliau melihatnya begitu polos dan ‘unik’, menyendiri dari orang-orang lainnya, tetapi tampak jelas begitu khusyu’ menghadap Allah dalam tawafnya itu.

Si Badui tersebut memandang Nabi SAW seakan tak percaya, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat kepada beliau sambil merendah dan akan mencium tangan beliau. Tetapi Nabi SAW memegang pundaknya dan berkata, “Wahai saudaraku, jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan raja-rajanya, kerana sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dia mengutusku dengan kebenaran, sebagai pemberi khabar gembira (yakni akan kenikmatan di syurga) dan pemberi peringatan (akan pedihnya siksa api neraka) …”

Si Badui masih berdiri termangu, tetapi jelas tampak kegembiraan di matanya kerana bertemu dengan Nabi SAW. Tiba-tiba Malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW, menyampaikan salam dan penghormatan dari Allah SWT kepada beliau, dan Allah memerintahkan beliau menyampaikan beberapa kalimat kepada orang Badui tersebut, yakni : “Hai Badui, sesungguhnya Kelembutan dan Kemuliaan Allah (yakni makna asma Allah : Al Karim) bisa memperdayakan, dan Allah akan menghisab (memperhitungkan)-nya dalam segala hal, yang sedikit atau pun yang banyak, yang besar atau pun yang kecil…..”

Nabi SAW menyampaikan kalimat dari Allah tersebut kepada si Badui, dan si Badui berkata, “Apakah Allah akan menghisabku, ya Rasulullah??”

“Benar, Dia akan menghisabmu jika Dia menghendaki…” Kata Nabi SAW.

Tiba-tiba si Badui mengucapkan sesuatu yang tidak disangka-sangka, “Demi Kebesaran dan Keagungan-Nya, jika Dia menghisabku, aku juga akan menghisab-Nya….!!”

Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar pernyataan si badui, dan bersabda, “Dalam hal apa engkau akan menghisab Tuhanmu, wahai saudaraku Badui?”

Si Badui berkata, “Jika Tuhanku menghisabku atas dosaku, aku akan menghisab-Nya dengan maghfirah-Nya, jika Dia menghisabku atas kemaksiatanku, aku akan menghisab-Nya dengan Afwan (pemaafan)-Nya, dan jika Dia menghisabku atas kekikiranku, aku akan menghisab-Nya dengan kedermawanan-Nya….”

Nabi SAW sangat terharu dengan jawapan si Badui itu sampai menangis menitiskan air mata yang membasahi janggut beliau. Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan betapa “akrabnya” si Badui tersebut dengan Tuhannya, betapa tinggi tingkat ma’rifatnya kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapat didikan langsung dari Nabi SAW. Sekali lagi Malaikat Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, Tuhanmu, Allah As Salam mengirim salam kepadamu dan berfirman : Kurangilah tangismu, kerana hal itu melalaikan malaikat-malaikat pemikul Arsy menjadi lalai dalam tasbihnya. Katakan kepada saudaramu, si Badui, ia tidak usah menghisab Kami dan Kami tidak akan menghisab dirinya, kerana ia adalah (salah satu) pendampingmu kelak di syurga….!!!”

Tags:
0

Mencari ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

No automatic alt text available.

MENCARI ALLAH

Mencari Allah itu bukan didalam gua, bukit, mesjid, surau dan bukan di Mekah, dlm buah tasbih atau di negeri Cina,

Tempat mencari Allah itu, ada didalam diri masing-masing. Belajarlah mengenal diri (roh), agar Allah dapat kita kenal dengan terang dan nyata, Manakala tanggung jawab dan janji Allah kepada kita sebagai hamba-hambanya adalah tidak sekali-kali menganiayai hamba-hambanya.

Kita tidak perlu takut kepada Allah, kerana Allah itu maha pemurah, maha pengasih dan maha penyayang. Tidak pendendam. Tidak pembohong, tidak pendusta dan tidak mungkir dengan janjinya dan tidak akan menganiaya hamba-hamba nya, asal saja kita, tidak menyengutu, mensyarikatkan dan syirik kepada Nya

Bagaimana Untuk Menzahirkan Allah ?

Untuk menzahirkan Allah, adalah dengan cara membinasakan sifat makhlok, termasuk perbuatan, nama, sifat dan zatnya. Apabila sifat maklok sudah binasa, barulah sifat Allah terzahir, selagi ada sifat makhlok, selagi itulah Sifat Allah tidak akan dapat kita zahirkan dan tidak dapat kita pandang.
Setelah semua makhlok yang bersifat baharu ini dibinasakan dan dikembalikan kepada Allah, barulah dengan sendirinya sifat Allah itu akan terzahir dipermukaan hati kita. Wajah Allah itu akan ternyata terlihat dan terpandang oleh hati, apabila sifat makhlok telah bertukar wajah, dari wajah makhlok kepada berwajah Allah.

Selagi adanya sifat diri kita dan selagi adanya sifaf makhlok, selagi itulah sifat Allah tidak akan dapat dilihat, dipandang dan tidak akan dapat terzahir dipersada Alam.

Seumpama Nabi Musa melihat kepada Bukut Thur Sina, apabila sifat bukit yang dipandang itu masih terlihat berwajah bukit, wajah Allah tidak dapat dipandang. Seolah-olah ianya terhijab dan terselindung disebalik sifat bukit itu. Apabila sifat bukit yang dilihat itu tidak lagi kelihatan berwajah bukit , sudah terlebur dan binasa, disitulah wajah Allah akan dapat terlihat dan terpandang oleh mata hati kita.

Begitu juga apabila kita terserempak dengan harimau yang garang, apabila kita masih beranggapan yang harimau itu bersifat haiwan yang garang, kita akan berperasaan takut dan cemas.. Jika kita anggap / pandang sifat harimau sebagai wajah Allah, yang sama dengan wajah-wajah sekalian makhlok lainnya, sifatnya yang garang itu akan bertukar menjadi lemah.

Setelah sifat makhlok tidak lagi kelihatan pada pandangan kita, barulah wajah Allah boleh dilihat dipandang dan digambarkan dengan sejelas-jelas dan nyata melalui pandangan mata hati. Disitulah nantinya apa yang kita pandang itu akan nampak Allah besertanya.

Selepas sifat makhlok terpadam, karam, dan hilang ghaib di dalam wajah Allah, semua wajah makhlok yang kita lihat akan terpandang wajah Allah.

Pandang pada sifat harimau, akan ternampak wajah Allah. Pandang sifat bukit akan ternampak wajah Allah. Dan pandang pada sifat diri kita sendiri akan terzahir wajah Allah.

Malahan Allahlah yang meliputi sekalian alam. Disitulah nantinya barang kemana dan barang apa yang kita lihat, akan terpandang dan terlihat wajah Allah besertanya.

Mengenal diri itu, setelah tidak lagi tahu adanya diri. Mengenal Allah itu, setelah tidak lagi tahu adanya makhlok. Ingatkan Allah itu, setelah tidak lagi tahu adanya ingatan kepada makhlok.

Tahu Allah itu, setelah tidak lagi tahu makhlok.

Adanya Allah itu, setelah tidak adanya makhlok.

Jika masih ada (wujud) perkara selain Allah, itulah mereka-mereka dalam berkedudukan syirik. Syirik itu adalah dosa yang tidak diampun oleh Allah.

Oleh itu jauhilah syirik dengan membinasakan makhlok ! Setelah makhlok binasa, itulah tanda Allah itu Esa, setelah Esanya Allah itu, barulah terzahir dan ternyatanya Allah Taala dipersada alam

Ingat kepada Allah, setelah lupa kepada Makhlok. Selagi ingatan kita masih ingat kepada makhlok, itulah tanda kita lupa kepada Allah.

Inilah sebenar-benar pengertian ingat (zikir) kepada Allah. Ingat kepada Allah itu, seumpama diri diwaktu tidur. Dikala kita sedang tidur, anggota mulut, akal, ikhtiar, kehendak dan seluruh anggota jasad kita juga turut lupa kepada makhlok.

Lupa kepada makhlok, itulah cara dan kaedah ingat kepada Allah

“Allah menggengam roh ketika mati dan ketika tidurmu” Az-Zumar : 42

Setelah kita berjaya berserah diri semasa belum tidur, bilamana diketika sedang tidur, dengan sendirinya kita dikatakan selamanya dalam keadaan berserah diri. Apa lagi diketika jaga.

Sebenarnya diri kita ini adalah tergantung dan terserah kepada Allah Taala. Apabila kita telah sampai ketahap penyerahan yang hakiki / sebenar ianya akan diri kita kosong / fana’ dan kosong itulah sebenarnya diri kita.. Selagi belum jadi kosong / fana’, itu bukan diri… Belum kenal diri. Jika belum kenal diri, manakan boleh mengenal Allah

Sebutan Nama Allah yang kosong ( tanpa kehadiran rasa ), adalah permainan bibir yang kotor, sesat lagi menyesatkan. Allah itu wujud ( ujud dan maujud pada segala sesuatu ) kenapa ingatan kepada Allah, tidak dapat dizahirkan melalui sesuatu?

Firman Allah yang bermaksud :-

“Mereka mengatakan dengan mulutnya barang yang tiada didalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan”

Berzikirnya kebanyakan kita hanya menyebut-nyebut nama Allah dengan mengira jumlah sebutan itu. Ingat / zikir kepada Allah bukan sekadar menyebut nama Allah, sekadar menyebut nama Allah budak seusia 3 tahun pun boleh, malah burung tiong yang diajar untuk menyebut nama Allah pun boleh..!

Zikir atau ingat kepada Allah itu hanya akan diterima Allah, bila ianya terkeluar dari bibir mereka-mereka yang mengenal Allah. Bila perkataan “Allah” terkeluar dari mulut orang yang tidak mengenal Allah ( jika guna pembesar suara sekalipun ) ianya tidak mendatangkan apa-apa makna.

Kdt: Tdk Bersuara Tdk Berhuruf

0

Semuanya adalah Cerita DIA

Bismillahirrahmanirrahim

Tiada lagi istilah berduka lara..
Tiada lagi rasa gundah gulana..
Dan tiada lagi pedih derita di jiwa..

Jika kau memandang segalanya adalah Dia..
Segalanya adalah bukti dan penzahiranNya..
Dan ini semua hanyalah jalan cerita Dia..

Yang tinggal cuma rasa bahagia..
Menjalani kehidupan penuh ceria..
Kerana Dia itu bersamamu sentiasa..

Tags:
0

Kita Sebenarnya Ingat Atau Tidak Ingat?

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for otak

INGAT VS TIDAK INGAT

Apakah kamu berdaya ingat Allah ?

namun sahabat – sahabat yang telah
” bermakrifat ” itu jangan risau jika tidak
dapat mengingati Allah sepanjang masa
sebab dia berada di sebalik ” rasa ” ingat
dan tak ingat itu …..

Dan ketika sahabat ingat ( zikir ) kepada
Allah itu janganlah berasa konon dapat
mengingatiNYA , sebab yang ” ingat ” itu
adalah dia sendiri , makhluk tidak berdaya …

Dia mengingati dirinya sendiri …
Dia memuji dirinya sendiri …
( manusia @ insan itu adalah
dalam lakonan menzahirkan )

Pada setiap gerak dan diam …
pada nafas turun naik ( huu Allah ) …
” dia memuji dirinya sendiri ”
Dia yang hidup pada turun dan naik
nafas menyatakan keberadaanNYA …

Orang yang ” mati sebelum mati ”
Orang yang ” sedar ” yang hidup
hanya Allah sedang dia bersifat mati
boleh mengingati lagi kah ?

Kesimpulannya :

Yang ” ingat ” dengan ” tak ingat ” itu
adalah ” DIA ” sendiri …..

Maka orang – orang yang mengenal diri
itu sentiasa ia ” ingat ” akan Allah ,
baik di kala berdiri , duduk , berjalan ,
atau ketika dalam tidur sekali pun …
kerana di dalam ” kefanaan ” yang ada
hanya Allah …

HANYA ALLAH INGAT ALLAH …..
di dalam rahsiaNYA …..

via Qalbu Mukmin Baitullah

0

Semuanya Kerana ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for Allah

AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH…

AKHIR AGAMA MENYATAKAN ALLAH…

TIADA YANG WUJUD SELAIN ALLAH…
NAFI DAN ISBAT ITULAH ALLAH…

DARI ALLAH…
KEPADA ALLAH…
UNTUK ALLAH…
KERANA ALLAH…
BERSERTA ALLAH…

AMIIN

Tags:
  • Video Tenaga Dalam
Klik Sini Untuk Bantu Pak Cik Bayar Kos Blog Ini Klik Sini