Info Agama Archive

0

Awal Beragama Adalah Mengenal Tuhannya

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for awaluddin makrifatullah

Nabi Muhammad dalam hadisnya mengatakan “awal beragama adalah makrifat (mengenal) kepada Allah”. Erti mengenal berbeza dengan hanya sekadar Tahu. Kalau Mengenal sudah pasti tahu, sedangkan tahu belum tentu mengenal. Sebahagian besar manusia “mengaku“ mengenal Tuhan, sebenarnya mereka hanya Tahu.

Nabi Muhammad pernah menyampaikan “Belajarlah Hingga Ke Negeri Cina”. Orang muslim hanya memaknai betapa pentingnya belajar, akan tetapi harapan dari Nabi dengan hadisnya yang ingin ditekankan selain dari nilai pentingnya belajar adalah agar semua manusia belajar, mencari, memahami dan akhirnya mengenal siapa Tuhannya, sehingga saat beribadah menghadap Tuhan, para manusia mengerti siapakah yang sedang di SEMBAH.

KALAU USUL JANGAN ASAL,
KALAU ASAL JANGAN USUL.

Apabila manusia tidak mengenal Tuhannya, mana mungkin manusia yakin dengan apa yang dilakukannya. Hal ini seperti seorang pemburu yang membidik ribuan burung, di mana sang pemburu tidak tahu burung mana yang akan dia bidik. Kalaupun dia berani memanah, adanya kesia-siaan.

Nabi Muhammad menyampaikan “Siapa yang melihat kepada sesuatu, tidak dilihatnya Allah di dalamNya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka”.

Abu Bakar Siddiq “Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”.

Usman Ibnu Affan “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah segalanya”.

Umar Ibnu Khattab “Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya“.

Ali Bin Abi Talib “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya”. “Tidak diperkenankan Ibadahnya seseorang apabila belum melihat-Nya, kerana yang ada hanya kesia-sian”

Dalam satu hadisnya, Nabi Muhammad menyampaikan “Siapa mengenal dirinya maka mengenal ia akan TuhanNya”. Dalam hadis yang lain adalah sebagai berikut “Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, nescaya dikenalnya Tuhannya kekal”.

Tuhan memerintahkan secara jelas untuk menjadi islam secara kaffah (menyeluruh) dalam Q.S. Al Baqarah ” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu “. (Qs. Al Baqarah 2 : 208)

“…….dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan…………”, Jadi bagi manusia yang tidak mahu “berjalan” untuk mencari hingga mengenal Tuhan…. maka manusia tersebut mengikuti langkahnya syaitan.

Di dalam Islam setiap pemeluknya terdapat dua pilar sebagai penyangga keyakinannya, Rukun Islam & Rukun Iman. Dalam Rukun Islam yang pertama adalah Mengucapkan dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi bahawa Muhammad adalah Utusan Allah”. Rukun Iman yang pertama “Percaya kepada Allah”.

“Bagaimana Manusia BERSAKSI kalau manusia itu sendiri belum PERCAYA, bagaimana PERCAYA kalau belum MELIHAT”

QS 58 Al Mujadilah ayat 11 “……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……….. ”.

Tuhan tidak akan memberikan ilmu apabila orang tersebut hanya diam dengan tidak ada usaha untuk mencarinya. Semua Nabi, dan utusan Tuhan semua melaksanakan perjalanan “pencarian” dengan “lelaku” dan metode masing-masing sesuai zamannya. Dengan sekian banyak riwayat yang kita terima, sudah seharusnya kita mengikuti apa yang dijalankan oleh para pendahulu kita agar kita menjadi “Haqqul Yaqin”.

QS. 58. Al Mujadilah ayat 11 “……Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” QS. 39 Az-Zumar ayat 9.

Nabi menyampaikan dalam hadisnya “Perbezaan derajat kemuliaan seseorang yang beramal ibadah berdasarkan ilmu dengan seseorang yang hanya sekadar beribadah saja (tanpa ilmu) sama dengan perbezaan derajat kemuliaanku (kata Nabi) dengan derajat seseorang yang paling hina dari antara kamu!”.

0

Bukan Sekadar Cinta Biasa

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for cinta agung

Menurut Imam Al-Ghazali, Allah SWT pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud a.s. : “Wahai Daud! Sampai bilakah engkau menyebut-nyebut syurga dan tak pernah meminta perasaan rindu kepada-Ku?”

Nabi Daud a.s. bertanya, “Siapakah orang-orang yang merindukan-Mu, ya Allah?”

Lalu, Allah menjawab, “Orang-orang yang merindukan-Ku adalah mereka yang Aku bersihkan dari segala kotoran dan Aku peringatkan mereka agar selalu waspada dan berhati-hati. Aku lubangi hati mereka agar mereka dapat melihat-Ku. Aku genggam hati mereka dengan tangan-Ku dan Aku letakkan di lapisan-lapisan langit-Ku. Lalu, Aku panggil malaikat-malaikat-Ku. Setelah berkumpul, mereka lalu bersujud kepada-Ku.

Lalu, Aku katakan kepada mereka: “Aku memanggil kalian bukan untuk bersujud kepada-Ku. Aku memanggil kalian semua untuk mempertunjukkan hati orang-orang yang merindukan-Ku.”

Sungguh Aku bangga kepada kalian, wahai orang-orang yang merindukan-Ku. Hati kalian menyinari malaikat-malaikat-Ku di seluruh penjuru langit-Ku, sebagaimana matahari menyinari bumi.

Wahai Daud! Aku ciptakan hati orang yang merindukan-Ku itu dari keredhaan-Ku. Aku pun menganugerahkan hati itu cahaya wajah-Ku. Aku jadikan mereka juru bicara-Ku dan Aku jadikan tubuh mereka tempat Aku memandangi bumi. Aku lukai hati mereka sebagai jalan untuk melihat-Ku sehingga kerinduan mereka terus-menerus bertambah setiap hari.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab
Al-Mahabbah wa asy-Syawq
wa al-Uns wa ar-Ridha

0

Kisah Seorang Badwi Menghisab ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for hisab

Kisah Si badui Menghisab Allah SWT

Seorang lelaki Badui telah memeluk Islam, tetapi kerana keadaan ekonominya yang terbatas dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari Madinah, ia belum pernah menghadap dan bertemu langsung dengan Nabi SAW. Ia hanya berbai’at memeluk Islam dan belajar tentang peribadatan dari para pemuka kabilahnya yang pernah mendapat pengajaran Nabi SAW. Tetapi dengan segala keterbatasannya itu, ia mampu menjadi seorang mukmin yang sebenarnya, bahkan sangat mencintai Rasulullah SAW.

Suatu ketika ia mengikuti rombongan kabilahnya melaksanakan ibadah umrah ke Makkah. Sambil tawaf sendirian, terpisah dari orang-orang lainnya, si badui ini selalu berzikir berulang-ulang dengan asma Allah, “Ya Kariim, ya Kariim…..”

Ia memang bukan orang yang cerdas, sehingga tidak mampu menghafal dengan tepat doa atau zikir yang idealnya dibaca ketika tawaf, sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Kerana itu ia hanya membaca berulang-ulang asma Allah yang satu itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil mengucap juga, “Ya Kariim, ya Kariim!!”

Si Badui ini berpindah dan menjauh dari tempat dan orang tersebut sambil meneruskan zikirnya, kerana ia menyangka lelaki yang mengikutinya itu hanya memperolok dirinya. Tetapi ke mana pun ia berpindah dan menjauh, lelaki itu tetap mengikutinya dan mengucapkan zikir yang sama. Akhirnya si Badui berpaling menghadapi lelaki itu dan berkata, “Wahai orang yang berwajah cerah dan berbadan indah, apakah anda memperolok-olokkan aku? Demi Allah, kalau tidak kerana wajahmu yang cerah dan badanmu yang indah, tentu aku sudah mengadukan kamu kepada kekasihku…”

Lelaki itu berkata, “Siapakah kekasihmu itu?”

Si Badui berkata, “Nabiku, Muhammad Rasulullah SAW!!”

Lelaki itu tampak tersenyum mendengar penuturannya, kemudian berkata, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, wahai saudaraku Badui?”

“Belum..!!” Kata si Badui.

Lelaki itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin engkau mencintainya jika engkau belum mengenalnya? Bagaimana pula dengan keimananmu kepadanya?”

Si Badui berkata, “Aku beriman atas kenabiannya walau aku belum pernah melihatnya, aku membenarkan kerasulannya walau aku belum pernah bertemu dengannya…!!”

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dan berkata, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat…!!”

Memang, lelaki yang mengikuti si Badui itu tidak lain adalah Rasulullah SAW, yang juga sedang beribadah umrah. Sengaja beliau mengikuti perilaku si Badui kerana beliau melihatnya begitu polos dan ‘unik’, menyendiri dari orang-orang lainnya, tetapi tampak jelas begitu khusyu’ menghadap Allah dalam tawafnya itu.

Si Badui tersebut memandang Nabi SAW seakan tak percaya, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat kepada beliau sambil merendah dan akan mencium tangan beliau. Tetapi Nabi SAW memegang pundaknya dan berkata, “Wahai saudaraku, jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan raja-rajanya, kerana sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dia mengutusku dengan kebenaran, sebagai pemberi khabar gembira (yakni akan kenikmatan di syurga) dan pemberi peringatan (akan pedihnya siksa api neraka) …”

Si Badui masih berdiri termangu, tetapi jelas tampak kegembiraan di matanya kerana bertemu dengan Nabi SAW. Tiba-tiba Malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW, menyampaikan salam dan penghormatan dari Allah SWT kepada beliau, dan Allah memerintahkan beliau menyampaikan beberapa kalimat kepada orang Badui tersebut, yakni : “Hai Badui, sesungguhnya Kelembutan dan Kemuliaan Allah (yakni makna asma Allah : Al Karim) bisa memperdayakan, dan Allah akan menghisab (memperhitungkan)-nya dalam segala hal, yang sedikit atau pun yang banyak, yang besar atau pun yang kecil…..”

Nabi SAW menyampaikan kalimat dari Allah tersebut kepada si Badui, dan si Badui berkata, “Apakah Allah akan menghisabku, ya Rasulullah??”

“Benar, Dia akan menghisabmu jika Dia menghendaki…” Kata Nabi SAW.

Tiba-tiba si Badui mengucapkan sesuatu yang tidak disangka-sangka, “Demi Kebesaran dan Keagungan-Nya, jika Dia menghisabku, aku juga akan menghisab-Nya….!!”

Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar pernyataan si badui, dan bersabda, “Dalam hal apa engkau akan menghisab Tuhanmu, wahai saudaraku Badui?”

Si Badui berkata, “Jika Tuhanku menghisabku atas dosaku, aku akan menghisab-Nya dengan maghfirah-Nya, jika Dia menghisabku atas kemaksiatanku, aku akan menghisab-Nya dengan Afwan (pemaafan)-Nya, dan jika Dia menghisabku atas kekikiranku, aku akan menghisab-Nya dengan kedermawanan-Nya….”

Nabi SAW sangat terharu dengan jawapan si Badui itu sampai menangis menitiskan air mata yang membasahi janggut beliau. Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan betapa “akrabnya” si Badui tersebut dengan Tuhannya, betapa tinggi tingkat ma’rifatnya kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapat didikan langsung dari Nabi SAW. Sekali lagi Malaikat Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, Tuhanmu, Allah As Salam mengirim salam kepadamu dan berfirman : Kurangilah tangismu, kerana hal itu melalaikan malaikat-malaikat pemikul Arsy menjadi lalai dalam tasbihnya. Katakan kepada saudaramu, si Badui, ia tidak usah menghisab Kami dan Kami tidak akan menghisab dirinya, kerana ia adalah (salah satu) pendampingmu kelak di syurga….!!!”

Tags:
0

Mencari ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

No automatic alt text available.

MENCARI ALLAH

Mencari Allah itu bukan didalam gua, bukit, mesjid, surau dan bukan di Mekah, dlm buah tasbih atau di negeri Cina,

Tempat mencari Allah itu, ada didalam diri masing-masing. Belajarlah mengenal diri (roh), agar Allah dapat kita kenal dengan terang dan nyata, Manakala tanggung jawab dan janji Allah kepada kita sebagai hamba-hambanya adalah tidak sekali-kali menganiayai hamba-hambanya.

Kita tidak perlu takut kepada Allah, kerana Allah itu maha pemurah, maha pengasih dan maha penyayang. Tidak pendendam. Tidak pembohong, tidak pendusta dan tidak mungkir dengan janjinya dan tidak akan menganiaya hamba-hamba nya, asal saja kita, tidak menyengutu, mensyarikatkan dan syirik kepada Nya

Bagaimana Untuk Menzahirkan Allah ?

Untuk menzahirkan Allah, adalah dengan cara membinasakan sifat makhlok, termasuk perbuatan, nama, sifat dan zatnya. Apabila sifat maklok sudah binasa, barulah sifat Allah terzahir, selagi ada sifat makhlok, selagi itulah Sifat Allah tidak akan dapat kita zahirkan dan tidak dapat kita pandang.
Setelah semua makhlok yang bersifat baharu ini dibinasakan dan dikembalikan kepada Allah, barulah dengan sendirinya sifat Allah itu akan terzahir dipermukaan hati kita. Wajah Allah itu akan ternyata terlihat dan terpandang oleh hati, apabila sifat makhlok telah bertukar wajah, dari wajah makhlok kepada berwajah Allah.

Selagi adanya sifat diri kita dan selagi adanya sifaf makhlok, selagi itulah sifat Allah tidak akan dapat dilihat, dipandang dan tidak akan dapat terzahir dipersada Alam.

Seumpama Nabi Musa melihat kepada Bukut Thur Sina, apabila sifat bukit yang dipandang itu masih terlihat berwajah bukit, wajah Allah tidak dapat dipandang. Seolah-olah ianya terhijab dan terselindung disebalik sifat bukit itu. Apabila sifat bukit yang dilihat itu tidak lagi kelihatan berwajah bukit , sudah terlebur dan binasa, disitulah wajah Allah akan dapat terlihat dan terpandang oleh mata hati kita.

Begitu juga apabila kita terserempak dengan harimau yang garang, apabila kita masih beranggapan yang harimau itu bersifat haiwan yang garang, kita akan berperasaan takut dan cemas.. Jika kita anggap / pandang sifat harimau sebagai wajah Allah, yang sama dengan wajah-wajah sekalian makhlok lainnya, sifatnya yang garang itu akan bertukar menjadi lemah.

Setelah sifat makhlok tidak lagi kelihatan pada pandangan kita, barulah wajah Allah boleh dilihat dipandang dan digambarkan dengan sejelas-jelas dan nyata melalui pandangan mata hati. Disitulah nantinya apa yang kita pandang itu akan nampak Allah besertanya.

Selepas sifat makhlok terpadam, karam, dan hilang ghaib di dalam wajah Allah, semua wajah makhlok yang kita lihat akan terpandang wajah Allah.

Pandang pada sifat harimau, akan ternampak wajah Allah. Pandang sifat bukit akan ternampak wajah Allah. Dan pandang pada sifat diri kita sendiri akan terzahir wajah Allah.

Malahan Allahlah yang meliputi sekalian alam. Disitulah nantinya barang kemana dan barang apa yang kita lihat, akan terpandang dan terlihat wajah Allah besertanya.

Mengenal diri itu, setelah tidak lagi tahu adanya diri. Mengenal Allah itu, setelah tidak lagi tahu adanya makhlok. Ingatkan Allah itu, setelah tidak lagi tahu adanya ingatan kepada makhlok.

Tahu Allah itu, setelah tidak lagi tahu makhlok.

Adanya Allah itu, setelah tidak adanya makhlok.

Jika masih ada (wujud) perkara selain Allah, itulah mereka-mereka dalam berkedudukan syirik. Syirik itu adalah dosa yang tidak diampun oleh Allah.

Oleh itu jauhilah syirik dengan membinasakan makhlok ! Setelah makhlok binasa, itulah tanda Allah itu Esa, setelah Esanya Allah itu, barulah terzahir dan ternyatanya Allah Taala dipersada alam

Ingat kepada Allah, setelah lupa kepada Makhlok. Selagi ingatan kita masih ingat kepada makhlok, itulah tanda kita lupa kepada Allah.

Inilah sebenar-benar pengertian ingat (zikir) kepada Allah. Ingat kepada Allah itu, seumpama diri diwaktu tidur. Dikala kita sedang tidur, anggota mulut, akal, ikhtiar, kehendak dan seluruh anggota jasad kita juga turut lupa kepada makhlok.

Lupa kepada makhlok, itulah cara dan kaedah ingat kepada Allah

“Allah menggengam roh ketika mati dan ketika tidurmu” Az-Zumar : 42

Setelah kita berjaya berserah diri semasa belum tidur, bilamana diketika sedang tidur, dengan sendirinya kita dikatakan selamanya dalam keadaan berserah diri. Apa lagi diketika jaga.

Sebenarnya diri kita ini adalah tergantung dan terserah kepada Allah Taala. Apabila kita telah sampai ketahap penyerahan yang hakiki / sebenar ianya akan diri kita kosong / fana’ dan kosong itulah sebenarnya diri kita.. Selagi belum jadi kosong / fana’, itu bukan diri… Belum kenal diri. Jika belum kenal diri, manakan boleh mengenal Allah

Sebutan Nama Allah yang kosong ( tanpa kehadiran rasa ), adalah permainan bibir yang kotor, sesat lagi menyesatkan. Allah itu wujud ( ujud dan maujud pada segala sesuatu ) kenapa ingatan kepada Allah, tidak dapat dizahirkan melalui sesuatu?

Firman Allah yang bermaksud :-

“Mereka mengatakan dengan mulutnya barang yang tiada didalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan”

Berzikirnya kebanyakan kita hanya menyebut-nyebut nama Allah dengan mengira jumlah sebutan itu. Ingat / zikir kepada Allah bukan sekadar menyebut nama Allah, sekadar menyebut nama Allah budak seusia 3 tahun pun boleh, malah burung tiong yang diajar untuk menyebut nama Allah pun boleh..!

Zikir atau ingat kepada Allah itu hanya akan diterima Allah, bila ianya terkeluar dari bibir mereka-mereka yang mengenal Allah. Bila perkataan “Allah” terkeluar dari mulut orang yang tidak mengenal Allah ( jika guna pembesar suara sekalipun ) ianya tidak mendatangkan apa-apa makna.

Kdt: Tdk Bersuara Tdk Berhuruf

0

Semuanya Kerana ALLAH

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for Allah

AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH…

AKHIR AGAMA MENYATAKAN ALLAH…

TIADA YANG WUJUD SELAIN ALLAH…
NAFI DAN ISBAT ITULAH ALLAH…

DARI ALLAH…
KEPADA ALLAH…
UNTUK ALLAH…
KERANA ALLAH…
BERSERTA ALLAH…

AMIIN

Tags:
0

Syariat Tarikat Hakikat dan Makrifat

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Related image
“Awaludini Ma’rifatullah”

Bermula awal agama mengenal Allah
Dengan apa Allah dikenal?
Dengan tiga perkara
mana yang tiga perkara itu?
Pertama tahu akan “TUBUH”
Kedua tahu akan “HATI”
Ketiga tahu akan “NYAWA”

Ada berapa pembagian tubuh?
Tubuh dibagi tiga
Yang mana yang tiga itu?
Pertama tubuh yang kasar
Kedua tubuh yang halus
Ketiga tubuh yang bathin

Maksud tubuh kepada hati
Maksud hati kepada nyawa
Maksud nyawa kepada Allah

Kalau iya memang benar kita orang yang menyembah Allah.
Berapa buah jalan manuju kahadirat Allah?
Adapun jalan menuju kehadirat Allah itu empat jalannya
Manakah yang empat itu?
Yaitu : yang partama jalan SYARIAT
yang kedua jalan TARIKAT
yang ketiga jalan HAKIKAT
yang keempat jalan MAKRIFAT

SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.
TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.
HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin.
MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.

SYARIAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
“JADI TUBUH”.
TARIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
“JADI HATI”.
HAKIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
“JADI NYAWA”.
MAKRIFAT: jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
“JADI RAHASIA”.

SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.
Apa bunyi zikirnya?
“LAA ILAHA ILLALLAH”.
TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.
Apa bunyi zikirnya?
“ALLAH ALLAH”.
HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin
Apa bunyi zikirnya?
“HU… ALLAH”.
MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.
Apa bunyi zikirnya?
( bunyinya ……….. tiada berhuruf,tiada bersuara,lenyap selenyap-
lenyapnya,karam sekaram-karamnya……….)

SYARIAT:adalah jalan tubuh,
Tahu ketiadaan tubuh kita lahir dan bathin
Zahirnya tubuh batinnya anggota.

TARIKAT:adalah jalan hati,
Tempat bergantung baik dan jahat,lahir dan batin
Zahirnya akal bathinnya pangana/pengenal(=ingat kepada Allah)

HAKIKAT: adalah jalan nyawa
Pencari jalan kepada Allah,lahir dan batin
Zahirnya angin bathinnya Muhammad

MAKRIFAT:adalah jalan rahasia Allah yang punya pegang(urusan Allah) zahir dan bathin
Zahirnya Muhammad batinnya Allah

SYARIAT : kalau mati dimana kuburnya?
“Dapat dibumi yang tak berpijak”
TARIKAT : kalau mati dimana kuburnya?
“Dapat dilangit tak berbintang”
HAKIKAT : kalau mati dimana kuburnya?
“Dapat diangin yang tak berhembus”
MAKRIFAT : kalau mati dimana kuburnya?
“Dapat dilaut yang tak berombak”

MATI SYARIAT : mati TABI’I namanya.
MATI TARIKAT : mati MAKNAWI namanya.
MATI HAKIKAT : mati SURI namanya.
MATI MAKRIFAT :mati HISI namanya.

Bila ikhlas mengamalkan salah satu zikir dalam mata pelajaran Tharikat Naqsyabandiyah
maka Allah akan memberi rasa mati yang empat perkara.
1.Dapat merasakan MATI TABI’I
Yaitu mati panca indra yang lima,seluruh anggota tubuhnya secara lahir dan batin telah membaca Allah Allah dan suara alam ini seolah berzikir dan terdengar membaca kalimat Allah Allah,berzikir dengan sendirinya,hingga yang tinggal hanyalah rasa rindu terhadap Allah.Orang yang telah merasakan mati Tabi’i itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah pada maqam tajalli Af’alullah(nyata perbuatan Allah SWT).

2.Dapat merasakan MATI MAKNAWI
Yaitu merasakan dirinya lahir dan batin telah hilang dan seluruh alam ini telah lenyap semuanya,yang ada hanyalah kalimat Allah Allah semata-mata dimanapun ia memandang,kalimat Allah yang ditulis dengan Nur Muhammad.
Orang yang telah merasakan mati maknawi itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada maqam Asma Allah SWT,atau biasa disebut maqam Tajalli Asma(nyata nama Allah SWT),nama dengan yang punya nama tidak terpisahkan sedikitpun.”Dengan nama Allah SWT,yang tidak memberi mudarat/binasa dilangit dan dibumi dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui”.

3.Dapat merasakan MATI SURI
Yaitu didalam perasaan orang itu telah lenyap segala warna-warni,
yang ada hanya Nur semata-mata,yakni Nurullah,Nur Dzatullah,Nur Sifatullah,Nur Asma Allah,Nur Af’alullah,Nur Muhammad,Nur Baginda Rosulullah,Nur Samawi,Nur ‘Ala Nur.
Inilah orang yang telah diberi pelita oleh Allah untuk meluruskan jalannya.
Orang yang telah merasakan mati suri itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada makam Tajalli Sifattullah(Nyata Sifat Allah).

4.Dapat merasakan MATI HISI
Yaitu dalam perasaannya telah lenyap kalimat Allah,dan telah lenyap pula seluruh alam ini secara lahir dan batin,dan telah lenyap pula nur yang tadinya terang benderang,yang ada dan dirasakannya adalah Dzat Allah SWT,bahkan dirinya sendiripun dirasakannya hilang musnah,ia telah dibunuh Allah SWT.dan dialah sebagai gantinya,sebagaimana firman Allah SWT didalam Hadist Qudsi:
“Bahwasanya hamba-Ku,apabila AKU telah kasihi,AKU bunuh ia,lalu apabila telah AKU bunuh,maka AKUlah sebagai gantinya”
Maka langkahnya seolah-olah langkah Allah
Pendengarannya,pendengaran Allah
Penglihatannya,penglihatan Allah
Geraknya,kehendak Allah
Perbuatannya,perbuatan Allah

Orang yang telah mendapat mati hisi,ia akan melihat Allah SWT dalam perasaannya
Surat Al-Baqarah ayat 115 :
“Timur dan barat kepunyaan Allah SWT,kemana kamu menghadap,maka disana ada wajah Allah”
Surat An-Nisa ayat 126 :
“Dialah Allah yang awal,dan Dialah yang zhahir dan Dialah Allah yang batin”
Orang yang telah merasakan mati hisi ,itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah SWT pada maqam Tajalli Dzat.

0

Beberapa Kata Nasihat

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for hakikat insan

Hitam itu Hitam bila adanya Putih. Jika semuanya Hitam maka tiada makna lah hitam. Maka Allah jadikan Putih dan berbagai warna lagi bg menunjukkan kesempurnaan Allah. Baik (Syurga) itu baik bila adanya jahat (Neraka). Maka Allah jadikan kejahatan untuk memberi makna kepada kebaikan bagi menunjukkan kesempurnaan Allah. Tidak lebih dari itu hanya semata mata untuk menunjukkan kesempurnaan Allah…dan akhirnya kembalilah kita ke sifat asal.

Kejadian buruk dan baik – Segala yg berlaku adalah melalui dan mengikuti apa yg ada pada ilmu allah. Ikut suka Allah lah untuk membuat apa hasil dari buah tangan ciptaan Nya. Itu hak Allah, kita sebg hamba apakah hak kita utk mempersoalkan ketetapan hasil dari ciptaan Nya. Baik atau buruk sesuatu dtgnya dari Allah. Baik dari Nya, buruk pun pulang kepada Allah.

Ilmu pertama dalam islam ialah mengenal allah. Sebagaimana kata Ulamak terdahulu “Awal-awal beragama itu mengenal Allah”

 

0

Makam Penelanjangan Tuhan

Bismillahirrahmanirrahim

No automatic alt text available.

Makam ini disebut juga dengan makam ahlul ahirat, atau makam HAKIKAT SEMATA. Makam ini sangat dahsyat sekali. Ia diluar dari akal orang banyak. Dan ia tidak berpegang kepada kulit zahir daripada Nas dan dalil lagi. Ia telah menyeberang daripada
Nas dan dalil yang ada ini, ia tidak berpegang dengan kata- kata yang ada ini lagi, dan tidak bersandar kepada hukum-hukum lahir lagi. Ia berdiri sendiri menurut kata SIR-nya
Inilah yang menjadi hukum baginya Jadi yang beginilah yang hamba katakan sangat dahsyat sekali, dan sangat hebat sekali
TIDAK AdA ALLAH, MELAINKAN ALLAH
TIDAK ADA ENGKAU, MELAINKAN AKU
TIDAK ADA AKU, MELAINKAN ENGKAU
ENGKAU DAN AKU ADALAH ESA
ENGKAU LENYAP, AKU BERNYATA
AKU LENYAP ENGKAUPUN NYATA
ENGAKU DAN AKU telah lenyap didalam kefanaannya,
kefanaan lenyap didalam ke-esaannya Allah.
Keesaan lenyap didalam kekidaman.
Kekidaman lenyap didalam kebaqaan.
Akhirnya fana dan baqa dalam keagungan.
Kini tiada kelihatan lagi makhluknya.
HAMBA dan ALLAH hanyalah asma.
HAMBA itu berarti ; AKU
ALLAH itu berarti ALLAH
HAMBA dan ALLAH adalah TUNGGAL
AKU dan ALLAH juga Tunggal
Kalau dihimpunkan menjadi : AKU ALLAH
Lenyap AKU, tinggallah ALLAH
FANA HURUF ALLAH, timbullah kosong
Kosong huruf, kosong asma, kosong suara, kosong segala-galanya, dan tidak apa-apa, tiada hingga. Ahirnya didalam kekosongan, Nampak jelas ujud membayang. Bayangan Allah adalah alam.
Terpandang kepada Allah Nampak jelas ujud yang sebenarnya. Kerana ia tiada boleh pisah walau ……….
Jadi bagi orang yang berada pada makam penelanjangan TUHAN, berkata dengan sembarang kata, tapi jadi. Apa yang dikehendaki pasti jadi.
Hanya orang banyak tidak mengerti dan tidak faham dengan apa yang dimaksudkan. Contoh banyak sekali kepada wali-wali Allah yang terdahulu. Hamba pribadi telah banyak membuktikan apa-apa. Yang terjadi, diluar kemampuan orang umum/awam.
Siapa percaya boleh percaya, dan siapa yang tidak percaya boleh tinggalkan ajaran ini.
AKULAH YANG BERNAMA CINTA, AKULAH YANG BERNAMA si HAK, AKULAH YANG BERNAMA SURGA DAN NERAKA ITU. AKULAH YANG BERNAMA ZATULHAQQ, SIFATULHAQQ, ASMAULHAQQ, DAN AF’ALLUNHAQQ, HAQUQULHAQ adalah ; HAQQ, HAQQ TA’ALA itulah AKU.
TA’ALA itu namaku yang Rahsia didalam ala mini.
RUHULHAQ RAHSIA HAMBA, NAMAKU DISEBUT SETIAP SAAT.
Apabila orang menyebut TA’ALA didalam bacaannya, atau dalam hatinya atau dalam DIAMnya. Maka tersebut samaku didalamnya.
AKULAH TA’ALA ITU, DAN AKULAH RAHSIA ITU.
BERARTI HAMBA ALLAH. Yang member nama yang empunya nama.
HAMBA ALLAH berarti : AKU ALLAH
NAMA YANG DIHANTARKAN KEPADAKU NYATA DARI ALLAH
Tiap-tiap nama seseorang itu mengandung hikmah. Hikmah itu bertepatan dengan pemberian nama itu. AKULAH YANG HAMBA DAN AKULAH YANG TUHAN.
AKULAH YANG BERNAMA siHAQ ITU
DAN AKULAH YANG NYATA DAN YANG GHAIB ITU
AKU JUA YANG ZAHIR DAN AKU JUA YANG BATHIN
AKU HIDUP YANG TIADA MATI-MATI, dan apabila AKU tiada lagi dalam dunia fana ini, janganlah mencari Aku lagi.
Aku tetap ada setiap orang yag beriman kepada ALLAH. Bila engkau hendak bertemu AKU, pandanglah dirimu itu AKU. Tidak ada AKU, melainkan AKU. Dalam keseluruhannya.
AKULAH yang bernama ala mini, dan AKULAH YANG bernama akhirat itu
Tidak aku lihat didalam sesuatu itu, melainkan AKU melihat AKU
AKU itu telah lenyap dalam KE AKUAN AKU, sehingga tidaklah AKU melihat kehambaanku lagi. Dan Aku telah bernyata didalam AKU, beraku Aku. Sehingga hapuslah mulutku dan hatiku
mengata AKU. Kini Aku tidak berkata dengan lidah lagi, tidak dengan hati lagi, dan tidak dengan puad dan jantung lagi.
TA’ALA RIDHA KASIH SAYANGKU
TA’ALA RACHMAD ITU SELIMUTKU
TA’ALA NIKMAT ITU RASAKU
TA’ALA HIKMAH ITU RACHMAN RACHIMKU
TA’ALA SUNNAH ITU ATURANKU
TA’ALA SHOLEH ITU ILMUKU
TA’ALA ADIL ITU KEKUASAANKU
TA’ALA ISFIAH ITU KEMAUANKU
TA’ALA DHOIM ITU RAHASIA PRIBADIKU
TA’ALA ALAIH ITU KALAMKU PASTI
T ‘ALA JALAL ITU KEMESRAANKU
TA’ALA JAMAL ITU KEELOKKANKU
TA’ALA KOHAR ITU KEKERASANKU
TA’ALA KAMAL ITU KESEMPURNAAN DAN KEMULIAANKU
TA’ALA KHIB ITU KESATUANKU BAGI SELURUH ALAM
Demikianlah sebagai penutup dari pembukaan
Rahsia yang terkandung pada kejadian DUNIA dan
Akhirat, dan amalan akhir kalamku sebagai harta atau
Pembendaharaan GHAIB yang kuwariskan kepada saudaraku
MUSLIMIN DAN MUSLIMAH dimanapun ia berada.Amin……..

0

Lenyapkan Segala

Bismillahirrahmanirrahiiim

Image may contain: night

Menyatakan keyakinan kita seperti menyatakan kelakuan malaikat kepada Allah dengan hakikat yang yakin bahwa :
Nyawa Nabi Muhammad dengan sebenarnya kekasih Allah kerana Allah yang maha tinggi telah melihat dirinya. Dan segala sesuatu adalah Haq Allah Ta’ala seperti kenyataan yang ada pada alam dunia dan akhirat kerana Allah melihat diriku seperti dirimu yang ada.
Inilah ilmu orang sufi (tasawuf) lihatlah pada diriku rupaku yang nyata ini maka terasalah kepada yang mempunyai kenyataan. Sebenarnya diri adalah Batin / zat itulah yang dapat melihat. Zat wajibul wujud dan diri yang ada ini bukan lainnya tetapi bukan lainnya dengan hakikat yang percaya dan yakin. Sebab melihat diri yang ada ini adalah diri yang baru itulah menyatakan yang batin demikianlah kenyataan yang ada. Nabi saw artinya. Sesungguhnya siapa yang melihat rupa / muka itulah wujud yang sebenarnya. Allah berfirman tidak nyata aku dan haq tidak ada pada sesuatu. Lam alif itulah tasawuf seperti nyata kepada insan. Maksudnya seperti tersebut di bawah ini :


Diri yang tajalli ialah sir, diri terperi adalah hati, diri yang terdiri ialah ruh, diri yang diperikan ialah tubuh. Dengan adanya kenyataan yang sudah ada kepada Allah yang telah menjadikan sekalian alam semesta demi untuk sempurnanya mempelajari ilmu ini maka lebih baiknya harus dinyatakan kepada guru yang ahlinya dibidang ilmu tasawuf. Nabi bersabda zikir Allah itu pada batin hambanya dengan ilmu inilah yang memerlukan bahwa tidak adanya yang lain hanya esa. dari itu kenalilah diri agar sempurna untuk mengenal Allah Ta’ala. Nabi bersabda sesungguhnya siapa megenal dirinya yang fana (tidak ada) maka dikenallah Allah yang kekal abadi.


Untuk mengenal diri terbagi 3 bagian.


1. Ketahuilah asal kejadian diri seperti tersebut di atas.
2. Matikan dirimu dengan arti mati maknawiyah.
3. Tidak ada kita berkuasa berkehendak, tahu, hidup, mendengar, melihat, dan tidak ada kita berkata-kata dan Allah yang maujud. Apa yang dikehendaki diri ini adalah menjadi haq Allah bahkan kezahiran / kenyataan Allah.

Klik Sini Untuk Bantu Pak Cik Bayar Kos Blog Ini Klik Sini