awaludin makrifatullah Archive

0

Awal Beragama Adalah Mengenal Tuhannya

Bismillahirrahmanirrahim

Image result for awaluddin makrifatullah

Nabi Muhammad dalam hadisnya mengatakan “awal beragama adalah makrifat (mengenal) kepada Allah”. Erti mengenal berbeza dengan hanya sekadar Tahu. Kalau Mengenal sudah pasti tahu, sedangkan tahu belum tentu mengenal. Sebahagian besar manusia “mengaku“ mengenal Tuhan, sebenarnya mereka hanya Tahu.

Nabi Muhammad pernah menyampaikan “Belajarlah Hingga Ke Negeri Cina”. Orang muslim hanya memaknai betapa pentingnya belajar, akan tetapi harapan dari Nabi dengan hadisnya yang ingin ditekankan selain dari nilai pentingnya belajar adalah agar semua manusia belajar, mencari, memahami dan akhirnya mengenal siapa Tuhannya, sehingga saat beribadah menghadap Tuhan, para manusia mengerti siapakah yang sedang di SEMBAH.

KALAU USUL JANGAN ASAL,
KALAU ASAL JANGAN USUL.

Apabila manusia tidak mengenal Tuhannya, mana mungkin manusia yakin dengan apa yang dilakukannya. Hal ini seperti seorang pemburu yang membidik ribuan burung, di mana sang pemburu tidak tahu burung mana yang akan dia bidik. Kalaupun dia berani memanah, adanya kesia-siaan.

Nabi Muhammad menyampaikan “Siapa yang melihat kepada sesuatu, tidak dilihatnya Allah di dalamNya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka”.

Abu Bakar Siddiq “Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”.

Usman Ibnu Affan “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah segalanya”.

Umar Ibnu Khattab “Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya“.

Ali Bin Abi Talib “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya”. “Tidak diperkenankan Ibadahnya seseorang apabila belum melihat-Nya, kerana yang ada hanya kesia-sian”

Dalam satu hadisnya, Nabi Muhammad menyampaikan “Siapa mengenal dirinya maka mengenal ia akan TuhanNya”. Dalam hadis yang lain adalah sebagai berikut “Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, nescaya dikenalnya Tuhannya kekal”.

Tuhan memerintahkan secara jelas untuk menjadi islam secara kaffah (menyeluruh) dalam Q.S. Al Baqarah ” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu “. (Qs. Al Baqarah 2 : 208)

“…….dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan…………”, Jadi bagi manusia yang tidak mahu “berjalan” untuk mencari hingga mengenal Tuhan…. maka manusia tersebut mengikuti langkahnya syaitan.

Di dalam Islam setiap pemeluknya terdapat dua pilar sebagai penyangga keyakinannya, Rukun Islam & Rukun Iman. Dalam Rukun Islam yang pertama adalah Mengucapkan dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi bahawa Muhammad adalah Utusan Allah”. Rukun Iman yang pertama “Percaya kepada Allah”.

“Bagaimana Manusia BERSAKSI kalau manusia itu sendiri belum PERCAYA, bagaimana PERCAYA kalau belum MELIHAT”

QS 58 Al Mujadilah ayat 11 “……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……….. ”.

Tuhan tidak akan memberikan ilmu apabila orang tersebut hanya diam dengan tidak ada usaha untuk mencarinya. Semua Nabi, dan utusan Tuhan semua melaksanakan perjalanan “pencarian” dengan “lelaku” dan metode masing-masing sesuai zamannya. Dengan sekian banyak riwayat yang kita terima, sudah seharusnya kita mengikuti apa yang dijalankan oleh para pendahulu kita agar kita menjadi “Haqqul Yaqin”.

QS. 58. Al Mujadilah ayat 11 “……Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” QS. 39 Az-Zumar ayat 9.

Nabi menyampaikan dalam hadisnya “Perbezaan derajat kemuliaan seseorang yang beramal ibadah berdasarkan ilmu dengan seseorang yang hanya sekadar beribadah saja (tanpa ilmu) sama dengan perbezaan derajat kemuliaanku (kata Nabi) dengan derajat seseorang yang paling hina dari antara kamu!”.

0

Awaluddin Makrifatullah

Bismillahirrahmanirrahim

Image may contain: text

Artinya : Awal-awal agama adalah mengenal Allah

Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita disuruh mengenal diri, seperti Hadist : “MAN’ARA PANAP SAHU PADAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya

“MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKD’RA PARABBAHU LAYA RIPU NAPSAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal Tuhannya, nescaya tiada dikenalnya lagi dirinya

“MAN ‘ARA PANAPSAHU BILFANA PAKAD’ARA PARABBAHU BIL BAQA”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, nescaya dikenalnya Tuhannya kekal

“KHALAK TUKA YA MUHAMMAD WAKHALAK TUKA ASY YA ILA ZALIK”
Artinya : Aku jadikan Engkau kerana Aku dan Aku jadikan Alam dengan segala isinya kerana Engkau Ya Muhammad

Firman Allah : “AL INSAN SIRRU WA ANA SIRRUHU”
Artinya : Insan itu Rahsiaku dan Aku Rahsia Insan

“WA AMBATNAL ABRU RABBUN AU ZAHIRU RABBUN ABBUN”
Artinya : Adapun bathin hamba itu Tuhan dan Zahir dan Tuhan itu hamba

“LAHIN HUWA WALAHIN GHAIRUH”
Artinya : Tiada ia tetap dan tiada ia lain dari ia

Firman Allah Ta’ala didalam Al-quran : “FAHUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM”
Artinya : Di mana saja Engkau berada (pergi) Aku serta kamu

“HUWAL AWWALU WAL AKHIRU WALBATHINU WAZZAHIRU”
Artinya : Ia jua Allah yang awal tiada permulaannya, dan Ia jua Allah yang akhir tiada kesesudahannya, Ia jua bathin dan Ia jua Zahir

Dalam pandangan Ma’rifat kita kepada Zat Allah Ta’ala itu, “LAISA KAMIS LIHI SYAIUN” tiada seumpamanya bagi sesuatu, dan bukan bertempat.

Adapun Ma’rifat kita atau pengenalan kita akan diri diperikan AF ‘ALULLAH, adapun Ma’rifat kita akan AF ‘ALULLAH, LAHAU LAWALA KUWWATA ILLAH BILLAHHIL’ALI YIL’AZIM. Artinya : Datang daripada Allah dan kembalinya kepada Allah jua segala sesuatu, sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi demikian : “MUTU ANTAL KABLAL MAUTU”. Artinya : Matikan diri kamu sebelum mati kamu.

Adapun mati ini ada dua ma’na, maka apa bila Roh bercerai dengan jasad itu mati hisi namanya, atau mati yang sebenarnya. Adapun mati yang dimaksud hadis Nabi yang di atas tadi, adalah mati Ma’nawi, artinya mati dalam pengenalan mata hati.

Mahasuci Allah Subhanahu wata’ala Tuhan Rabbil’izzati dari upayamu, wujudmu, supaya Aku terang sempurna, upaya Allah dan kuat Allah, dan wujudnya Allah “BILLAHI LAYARILLAH” tiada yang mempunyai dan menyembah Allah hanya Allah.

Bagitu sekalian Aribbillah mengerjakan ibadat kepada Allah Ta’ala. Adapun yang bernama Rahsia itu “Sirrullah”.

0

Penghayatan Makrifatullah

Bismillahirrahmanirrahim

Ma’rifatullah adalah ilmu yang sampai ketingkat keyakinan yang mutlak dalam mengenal ke-Esa-an Allah, baik itu Af’al, Asma, Sifat, dan Dzat-Nya. Dan Arifbillah (orang yang mengenal Allah) itu selalu merasa dan yakin bahwa dia bersama dengan Allah SWT dimana saja berada. Hal seperti inilah semulia-mulianya iman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW;
Dari Abbadah bin Samat r.a, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda;
“Semulia-mulianya iman seseorang iaitu ia Mengetahui bahwa Allah bersama dia dimana saja berada.”

Allah SWT menciptakan makhluk adalah dengan tujuan yang paling utama, yaitu untuk Mengenal-Nya. sebagaimana Firman Allah di dalam Hadits Qudsi;
“Aku adalah Perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka kujadikan Makhluk supaya dengan Aku mereka kenal.”

Setelah kita mengenal Allah SWT, maka kita diwajibkan untuk mengabdi kepada-Nya. seperti Firman Allah di dalam Alquran;
Dan Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk mengabdikan kepada Allah.

Manusia itu juga adalah Khalifah Allah yang diberi Amanat untuk Mengenal-Nya. Hal ini di isyaratkan di dalam Alquran;
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan Amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul Amanat itu dan mereka kuwatir akan mengkhianatinya. dan dipikullah Amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(Al Ahzab;76)
Zalim dan bodoh kerana lupa terhadap dirinya sendiri dan jatuh dari derajat yang tinggi, tidak menyadari akan fitrahnya sendiri sebagai makhluk yang dinilai mampu menyandang amanat Ilahi yaitu Mengenal Allah dan Meng-Esa-kan-Nya.
Amanat terbesar adalah Mengenal Allah dan Meng-Esa-kan-Nya, hal ini kerana apabila Meng-Esa-kan Allah bukanlah Amanat yang tertinggi, maka Mengapa Allah berfirman di Alquran; Bahwa Dosa yang paling besar adalah Syirik.(QS. Al Luqman:13)
Jadi dari penjelasan ini marilah kita kembali kepada Fitrah iaitu Mengenal Allah.

Jalan untuk Mengenal Allah SWT adalah melalui Kepunyaan-Nya, yaitu Segala yang ada di langit dan di bumi, seperti yang difirmankan Allah SWT;
Qs.42:53;Jalan Allah (Ma’rifatullah) yaitu kepunyaan-Nya segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi.

Dari seluruh kepunyaan-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi,manusialah yang paling mulia dan paling sempurna.

0

Awaluddin Makrifatullah

Bismillahirrahmanirrahim

“Awal Agama Mengenal Allah”

Mengenal diri sekaligus Mengenal Allah, berlakunya sembah kepada Allah atas kenal, kalau tidak kenal maka itu cuma hanya penat Sia sia hayalan belaka….

MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD ARAFA RABBAHU :
“Barang siapa mengenal dirinya maka akan kenal pada tuhanNya”

INNALILLAH :
“Sesungguhnya kita berasal dari Allah”
WA ILAIHI ROJIUN :
“Akan kembali kepada Allah”

Pembuktian sesungguhnya kita berasal dari Allah, kata Allah dalam hadist qudsi :
“AKU ADALAH PERBENDAHARAAN YANG TERSEMBUNYI, AKU INGIN DIKENAL MAKA KUCIPTAKAN MAHLUK (Adam) DAN SEGALA ALAM BESERTA ISINYA”

Kata Allah : “AKU INGIN MELIHAT DIRI DILUAR DIRIKU”

Sebenarnya sebelum ada langit dan bumi, sebelum ada syurga dan neraka, dan juga sebelum ada Makhluk, dan Allah pun belum dikenal sudah adakah kita,?…. Dan adanya kita dimana,?
Jawab :
ADANYA KITA SEMUA IAITU DI DALAM PERBENDAHARAAN ALLAH (di dalam kunhi dzat Allah)

Sedangkan Allah masih seorang diri, apakah Ruh kita sudah ada,?….
Apakah sama usia Allah dengan Ruh kita,?…. Sama-Sama Tiada Awal Tiada Akhir

0

Awal agama mengenal ALLAH. Akhir agama mengenal AKU

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wahai kekasih2 Allah.
Wahai diri…
Kita bukan lumpur bumi ini.
Bukan diciptakan dari air, api, angin, tanah.
Asal kita bukan wadi madi mani manikam.
Kita bukan benih yang menyerupakan lelaki atau perempuan, ragam warna kulit dan bangsa.
Kita inilah Ahadun, Ahmad tanpa Mim.
Kita bukan berada di mana-mana, tetapi kita berada di dalam DIA.
Kita disekitari oleh DIA dan di dalam genggaman DIA.
Ke mana pun kita bergerak, kita berserta dengan DIA dan dikuasai oleh DIA.
Kita diliputi oleh DIA dan tidak berpisah dari DIA.
Kita bersama DIA dan sewujud dengan DIA.
Selagi kita tidak menjadi DIA, kita tidak mungkin melihat DIA.
Hanya dengan menjadi DIA, maka kita dapat melihat DIA yang mutlak dan tidak menyerupai segala sesuatu kerana DIA bukan sesuatu. DIA adalah DIA Ahadun Ahad, tidak pernah berubah dari azali-Nya.
Jika tidak mampu menjadi DIA, usahlah menjadi diri kita sendiri.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang AKU, maka katakanlah sesungguhnya AKU dekat.”

[Q.S. Al-Baqarah: 186]

Yang Ujud hanya ada satu AKU sahaja. Tidak ada aku yang lain. Malah AKU bukan Cahaya. AKU bukan Ruh. Cahaya, Ruh, Rahsia, Qalbu dan Jasad walaupun dari AKU tetapi bukan AKU yang sejati. Semua itu adalah manifestasi AKU untuk menampakkan UjudKu. Semua itu adalah tabirKu di antara gelap dan terang selaksa tujuhpuluhribu tabir, termasuklah ibu-bapa yang melahirkan keturunannya juga adalah tabirKu. Semua tabirKu itu pada hakikatnya adalah kosong, bathil dan persangkaan. Semua tabirKu itu adalah Mi’ratul Hayat (Cermin Hidup) yang di dalamnya adalah gambaran air sungai kehidupan yang berwarna kegelapan.Yang melihat AKU adalah AKU. Yang mengenal AKU adalah AKU. Yang mengingati AKU adalah AKU. Yang memuji AKU adalah AKU. Yang beribadah itu pun AKU.

AKU adalah Al-Haq yang meliputi ciptaanKu dengan QudratKu. Sebelum AKU ingin dikenali AKU adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi dan batin dalam DzatKu Yang Mutlak. AKU adalah kenyataan BatinKu iaitu HUWA (DIA Dzat) yang bersemadi dalam Ghuyub al-Ghuyub (Ghaib lagi Ghaib tidak diketahui). AKU adalah Yang Tunggal dan Hidup. HidupKu itu Maha Kaya dengan tujuh Sifat Maani tetapi Esa dalam WahdatKu – Ghaib al Ghuyub (SifatKu telah nyata tetapi ghaib dalam BatinKu). AKU bukan Cahaya tetapi Cahaya ada pada WahdahniyahKu – Ghaib al Ghaib (Namaku telah nyata tetapi semua hakikat benda masih tersembunyi dalam NamaKu).

AKU ibarat minyak yang tersembunyi dan terahsia dalam relung Pelita. Pelita itu adalah Alif yang menyatakan UjudKu. Tiada yang Ujud selain AKU. Pelita yang menzahirkan Cahaya Yang Terpuji (MUMAMMAD). Cahaya Yang Terpuji tersebar melalui Kaca yang terang-gemilang dan itulah RuhKu. RuhKu tampak pada Diri Terdiri, Diri Terperi dan Diri Tajalli seumpama teguhnya Pohon Khuldi yang menumbuhkan Buah Terlarang.

Untuk mengenal Diri yang sebenar Diri itulah AKU yang ada dalam Misykat Sufi. AKU bukan Cahaya, bukan Ruh, bukan Qalbu, bukan Jasad. AKU adalah Haqiqat segala makhluqat. AKU adalah Engkau dan Engkau adalah AKU, tetapi Engkau bukanlah Engkau sendiri. Engkau adalah kosong dan batil yang bernama Manusia!

Awal agama mengenal ALLAH. Akhir agama mengenal AKU …

Kdt: Tdk Berhuruf Tdk Bersuara

0

Nota Ringkas Mengenai Awaludin Makrifatullah

Bismillahirrahmanirrahim

Artikel ini diambil daripada Fb M a Q a M

AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH

MENGENAL ALLAH MAKSUDNYA MENGENAL DIRI

berkata arifbillah

Awaluddin Makrifatullah
Awal awal agama ialah Mengenal Allah.

Firman Allah :-

Al insanu sirri wa ana sirruhu
Sesungguhnya insan itu adalah rahsiaKu dan Akulah Rahsianya

Man arafa nafsahu fa qad arafa rabba-hu dan seterusnya………………
Sesungguhnya siapa yang mengenal Dirinya sunnguh ia telah mengenal Tuhannya. Dan sesiapa yang telah mengenal Tuhannya, maka binasalah dirinya dan Nyatalah Tuhannya.

Apakah yang dikatakan DIRI itu ? Dan apakah kaitan Diri itu dengan Tuhan ?

Ketahuilah saudaraku bahawa banyak lagi Firman Allah melalui Ayat Ayat Al-Quran dan Hadith Qudsi dan juga Hadith yang membawa kepada faham dalam perkara perkara yang cangan menjadi pokok utama perbincangan kita. Antaranya ialah :-

Allah lebih hampir kepada manusia itu daripada urat leher manusia itu
Malah aku beserta kamu …tidakkah kamu nampak ?
Kemana sahaja kamu hadapkan wajah kamu disitu ada wajah Allah
Allah itu meliputi sekalian manusia
Apabila telah sempurna kejadian Adam…maka Aku tiupkan ruhKu

YANG HIDUP & MENJALANKAN KEHIDUPAN ITU IALAH RUH

Saudaraku,

Apabila kamu membaca risalah ini dengan kuat ( bersuara ) ,geraklaku kamu adalah lebihkurang begini :-

Mata kamu melihat tulisan, otakmu mengenal huruf huruf dan menterjemahkannya kepada faham serta mengarahkan lidahmu bergerak mengikut tone tertentu bersama gerak halkommu dan terkeluarlah bunyi hingga terdengar oleh telingamu.

Perkara diatas boleh berlaku , kerana kamu masih hidup. Mata orang mati walaupun masih ada dan tidak cacat sudah tidak boleh melihat lagi. Otak mayat tidak lagi boleh menterjemah kepada faham kerana tiada apa apa isyarat atau gelombang yang dihantar oleh mata. Lidah dan halkom sudah tidak boleh bergerak lagi. Malah tiada satu anngota orang mati yang boleh berfungsi kerana semuanya sudah MATI.

Kenyataan mati diertikan sebagai sudah TIDAK BERNYAWA lagi atau NYAWA SUDAH MENINGGALKAN JASAD. Sebab itulah orang mati disebut sudah meninggal.

Maka nyatalah kepada kita bahawa NYAWA-lah yang HIDUP bukannya JASAD atau TUBUH BADAN kita. Mata Nyawa-lah yang melihat bukan mata kepala. Otak nyawalah yang berfikir bukan otak badan ..dan sebagainya.

Adalah juga jelas bahawa anggota anggota kita yang dihidupkan itu hanya alat alat milik Nyawa. Maka kita katakanlah bahawa YANG MENGHIDUPKAN JASAD atau TUBUH ialah NYAWA.

NYAWA ITU IALAH “ RUHKU “ ALLAH

Allah merujuk Nyawa itu dengan perkataan RUHKU. Maksudnya menurut Allah Ruh itu ialah Ruh Allah.

Didalam Al-Quran tiada pula Allah merujuk kepada Ruh itu sebagai Ruh Yang Aku Cipta atau Ruh Milikku. Yang ada Cuma RUHKU. Hanya penterjemah yang menterjemahkan Al-Quran ke bahasa Melayu menulis didalam kurungan dengan penjelasan bahawa Ruh itu ialah Ruh yang dicipta oleh Allah.

Apa pun Ruh itu, maka nyatalah kepada kita bahawa Ruh itu adalah Ruh Allah dan bukannya Ruh kita sebagai manusia. Maka dikatakanlah bahawa Ruh itu bersifat Rabbaniyah atau bersifat Ketuhanan. Ruh ini berada didalam jasad kita secara khusus.

Maka tidakkah kamu faham akan Firman Allah bahawa Ianya ( Allah ) beserta kamu dimana sahaja kamu berada ..dan saperti FirmanNya yang lain yang bermaksud …bahkan didalam diri kamu, apakah tidak kamu fikirkan ?

Nyata juga kepada kita bahawa kita ini sebagai manusia terdiri daripada dua perkara yaitu JASAD / TUBUH / BADAN / JASMANI yang berasal dari setitik MANI bapa kita dan sebutir TELUR ibu kita dan yang satu lagi dikenali sebagai NYAWA / RUH / RUHKU ALLAH / NAFS / HATI / QALBU / NUR MUHAMMAD / RUHANI ( dan lain lain nama yang banyak itu ) yang berasal dari Allah .

Ketahuilah juga mani bapa & sebutir telur pun berasal dari Allah juga disimpan didalam jasad ibu & bapa kita . Satu dinamakan ADAM & yang satu lagi dinamakan Muhammad.

Maka ditanya orang , dimanakah Allah ? Dijawab guru …itulah Rahsianya manusia.

Maka bersabda pula Nabi kita :

Itulah Amanah Allah kepadamu. Maka pulangkanlah amanah itu kepada Pemiliknya yang sebenar yaitu Zat Wajibul Wujud yang Ghaibul Ghyub yang kepadamu menamankan DiriNya sebagai Allah.

DATANG & KEMBALI SE – JASAD & SE-RUH

Nyatalah kepada kita jika kita terus mahu hidup kita tidaklah boleh memisahkan Jasad dengan Ruh / Nyawa. Maka bolehkah dipisahkan Muhammad dengan Allah ?

Sebaliknya jika hendak dipisahkan juga, maka akan hilanglah HIDUP MANUSIA itu atau matilah. Ruhnya telah hilang kerana KEMBALI ketempat asalnya yaitu kepada Yang Empunya Hak. Jasadnya ditanam juga kembali keasalnya yaitu tanah.

Firman Allah :-

Dari Allah engkau datang kepadaNya-lah engkau kembali.

Jika kita yakin Ruh kembali kepada Allah dan Jasad kembali kepada tanah…tidakkah kita terfikir bahawa kenyataan yang biasa kita lihat itu bertentangan dengan kenyataan Allah saperti disebut ayat diatas ?

Salahkah keyakinan kita …atau ada lagi yang belum kita ketahui ?

Kita datang kedunia atau keluar dari perut ibu kita secara hidup. Maksudnya kita lahir sejasad dan senyawa dalam keadaan bersatu jasad dan nyawa menjadi kita saorang bayi.

Maka pada akal kita sahlah kita datang dari Allah melalui ibu bapa kita dengan SE dan BERSEPADU . Kenapa pula bila kita mati atau kembali, hanya Ruh yang kembali kepada Allah. Tubuh pula tidak kembali kepada Allah tetapi dikembalikan kepada bumi. Bumi atau tanah kubur bukan Allah tetapi makhluk Allah .

KITA PERLU CARI ILMUNYA

Maka perlulah kita mencari jalan agar kita kembali sapertimana kembali yang dikehendakki Allah didalam FirmanNya diatas. Kembali SE yaitu kembali dengan Jasad dan Ruh – kedua-duanya kembali kepada Allah SWT.

Benarkah kemahuan kita itu ?

Jikalau benar, bagaimanakah cara yang perlu kita lakukan agar kita kembali SE-jasad dan SE-ruh ?

MENCARI ILMU DATANG & KEMBALI

Allah berfirman yang terdahulu telah disebutkan didalam rencana ini bahawa kita diperlukan memulangkan Amanah kepada Yang Empunya Amanah yaitu Allah.

Pemulangan Amanah inilah JALAN KEMBALI YANG BENAR yaitu kembali SEJASAD dan SENYAWA.

Mencari Jalan Kembali / Pulang berpunca dari Jalan Datang.

Jalan Datang hanya boleh kita ketahui jika kita ketahui akan asal usul kita yakni asal dan maksud kedatanga kita , cara cara kita datang dan kemana kita salepas ini.

Inilah yang dikatakan sebagai JALAN atau ILMU MENGENAL DIRI atau ILMU USUL dan disebut juga sebagai ILMU MENGENAL ALLAH yakni mengenal asal kita. Asal kita dari Allah atau lebih dari itu. Inilah yang kita perlu pelajari.

Semua manusia malah bintang sekalipun berasal dari mani setitik. Hanya tiga manusia sahaja yang tidak berasal dari setitik mani yaitu Nabi Adam, Siti Hawa dan Nabi Isa .as

Dari manakah datangnya mani itu ?

Jika kita katakan dari lelaki, kanak kanak lelaki belum ada mani selagi belum baligh. Jelaslah bahawa mani itu didatangkan oleh Allah kemudiannya kepada lelaki.

Apakah sebenarnya mani itu ? bagaimanakah mani setitik bagaikan nokhtah boleh menjadi kita insan yang kompleks ini dalam masa 9 bulan sahaja ?

Tentulah Allah Yang Maha Mengetahui. Macam mana cerdiknya pun manusia itu masih lagi tidak akan tahu bagaimanakah setitik mani boleh menjadi manusia tertentu , umpamanya jika suami isteri itu melayu, anaknya pun menjadi melayu. Saintis hanya dapat bercerita tentang dna & genes tetapi belum dapat mengetahui secara terperinci akan prosesnya.

Hanya segelintir manusia sahaja yang diberi pengetahuan oleh Allah tentang proses kejadian manusia ini.

Kdt to : Tdk Bersuara Tdk Berhuruf

Klik Sini Untuk Bantu Pak Cik Bayar Kos Blog Ini Klik Sini